Selasa, 30 Oktober 2012

Bab I: Kepergian Hartoyo (3)




Stephany dihimpit beberapa petugas berbaju preman yang menggiringnya ke luar rumah sakit. Banyak orang melihatnya dengan penuh tanda tanya, tapi polisi-polisi itu memberi aba-aba agar mereka minggir.

Di halaman rumah sakit, beberapa mobil diparkir dengan penjagaan beberapa petugas. Stephany tidak melihat satu orang pun yang dikenalnya.

“Dari mana mereka?” kata Stephany dalam hati.

Ada banyak polisi ibukota yang dikenalnya, apalagi di sekitar rumah. Ayah mengenal banyak polisi dan Stephany biasa bergaul dengan mereka.

Seseorang mendorong kepala Stephany melewati pintu belakang sebuah sedan putih.

“Aku mau dibawa kemana?” kata Stephany.

Dia merasakan kepalanya tiba-tiba pusing meski tidak membentur apapun. Sedetik kemudian, semuanya gelap.

Iring-iringan sedan keluar dari halaman rumah sakit. Mobil di depan tampak buru-buru, sehingga sopir sepertinya menghentak pedal gas dan kendaraan tampak sedikit oleng ketika berbelok. Beberapa wanita menjerit.

Stephany tampak terdiam di di kursi belakang. Dua lelaki tegap dengan kacamata hitam duduk di kiri kanan Stephany. Guncangan kendaraan membuat Stephany menggerakan kaki. Rok pendeknya tersingkap dan membuat salah satu penjaga mendadak tidak tenang.

Tangan salah seorang penjaga mencoba mengembalikan posisi kaki Stephany. Ketika tangannya berjarak satu inci lagi mendekati paha Stephany, penjaga lainnya menampik keras tangan rekannya.

“Maaf komandan!” kata penjaga itu.

Pria yang disebut komandan itu sangat tenang. Badannya sedikit gendut, tetapi tangannya kekar dan terlatih. Kumis dan sedikit jenggotnya dicukur klimis.


"Apa kau merasa ini jatahmu, Zeman?" kata pria di seblah kiri Stephany.


"Kau tak berhak memanggil dengan namaku. Panggil aku Dirut. Itu jabatanku sekarang. "

"Oke Bos.. Eh dirut."

"Cori itu nama baru kamu."

"Mengapa aku harus pakai nama perempuan?"

"Itu jatahmu. Kamua akan tahu rahasianya nanti."

Sedan berlari melintasi tol dengan begitu cepatnya. Terdengar sirine mengejar.

"Hei bisa berhenti!" Salah seorang polisi berteriak dari kaca pintu  yang dibuka setengah. Pengeras suara di kendaraan polisi sudah empat bulan belum diperbaiki. 

Zeman membuka jendela belakang dan tersenyum ke arah polisi. Sedan polisi melambat dan memilih keluar tol.

Zeman memberi tanda kepada sopir untuk keluar tol. Ketika baru saja membelokan setir ke kiri situasi tak terduga terjadi. Di tepi jalan tol,  kendaraan yang semula tampak mogok tiba-tiba berjalan menghentak.

Serempetan keras terjadi. Sebuah jeep menabrak sedan yang membawa Stephany. Beberapa orang keluar dari jeep dan langsung mencoba mengambil Stephany.

Zeman menarik pistol, tapi kemudian membatalkannya. "Oh tidak. Tak boleh ada orang yang mengenaliku mengacungkan senjata di tempat umum," pikir Zeman.


Ia berlari keluar diikuti Cori. Zeman dengan paksa menghentikan sedan lain dan meminta dua penumpangnya keluar. Cori tampak menyeret sopir sedan bernasib sial  itu dan mengantikannya dengan paksa. Cori membawa sedan hitam itu dengan terburu-buru  menuju ke arah  Bogor.

Tiga orang menggotong Stephany yang belum sadarkan diri. Tubuh Stephany yang putih tampak lunglai.
Kepala Stephany menggantung dengan rambut terurai berantakan. Beberapa orang yang menyaksikan tubuh Stephany yang putih,  tampak bersuit suit. Para penonton  tidak mengerti betapa seriusnya peristiwa ini.

Stephany  dilempar ke dalam jeep. Dengan  hentakan gas, jeep melaju kencang dengan sedikit oleng pada mulanya. Satu orang berseragam hitam-hitam bergelantungan di pintu sebelum ditarik rekannya dari dalam.

Kepala Stephany terbentur kursi. Seseorang yang paling kekar mengambil kepala Stephany dan menaruhnya di pundak.

Stephany mulai tersadar. Daya cium hidung Syephany  yang mancung itu sudah mulai berfungsi.

"Siapa yang makan jengkol?" Stephany berkata cukup keras sehingga  terdengar semua penumpang.

Para lelaki di dalam jeep sempat tertawa. Tapi mereka melihat situasi tidak layak untuk meneruskan tertawaan. Mereka semua tahu, sang Bos adalah satu satunya orang yang makan pete siang itu.

Karni, pemimpin pria berbaju hitam mencoba menutup mulut rapat. Tapi percuma bau pete itu tetap saja lolos dari hidung lebarnya.

"Jangan meleng. Keluar tol!" Teriak Karni kepada sopir yang sedang tidak konsentrasi memandangi wajah Stephany lewat spion. Wajah gadis itu  halus dan putih dengan sedikit bulu halus  di dahi."Lebih mirip orang Meksiko," kata sopir dalam hati.
 
"Oke Bos," jawab sopir kaget dengan membanting setir ke kiri.

Kepala Stephany jatuh di paha Karni. Sopir memadangi wajah Bos Karni sekilas dari spion. Karni merasa tak enak dan mengangkat wajah Stephany dengan pelan untuk ditegakkan kembali ke dandaran kursi.

Tapi situasi tak terduga terjadi. Plak!! Tangan Karni yang berotot menampar keras pipi Stephany hingga beberapa detik kemudian kulit muka sebelah kiri memerah. Bahkan tampak benjol sedikit di tulang pipinya.

"Jangan sampai dia terbangun!" Karni memperingatkan pasukannya. (bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar