Telepon berdering. Rahma menengok jam kecil di ujung
telepon. Jam 3 pagi, 13 menit.
“Halo, “ Rahma menyapa dengan setenang mungkin.
“Apakah Pak Hartoyo tidak ke kantor?” suara laki-laki
terdengar dari seberang telepon.
Rahma diam sejenak. Dia paham lelaki ini bertanya dengan
suara yang dipaksakan.
“Saya tidak tahu, “ kata Rahma sekuat tenaga menyembunyikan
getaran bibirnya.
“Terima kasih, Bu. Saya Gunadi. “
Air mata Rahma menetes sangat deras. Bibirnya bergetar amat
keras. Tapi ia mencoba sedapat mungkin tidak sesenggukan. Stephany, anak
pertama, masih belum tidur, lampu di kamarnya masih menyala. Sesekali bayangan
Stephany terlihat tengah duduk di depan komputer.
Rahma menengok jam kecil itu kembali. Suara adzan sayup
terdengar. Itu berasal dari masjid jauh yang biasa adzan dua kali
menjelang subuh.
Baru pernah adzan terdengar begitu lembut di telinga Rahma. Air matanya terus bercucuran. Sudah berapa tahun ia menginggalkan shalat, kepalanya menjadi begitu berat.
Ia bangkit perlahan mencoba menggapai tongkat yang sudah lama tidak terpakai tapi masih tergantung di dinding. Sebelum tangannya sampai ke dinding, ia tak melihat tongkat itu lagi.
Stephany terhenyak mendengar suara piring berjatuhan di ruang tengah. Ia meninggalkan layar chatting dengan kawannya di Jepang, tanpa bye bye.
Ketika pintu kamar dibuka, Stephany menyadari ada masalah besar. Ibunya terkapar di bawah meja. Piring-piring berjatuhan dan ada beberapa percik darah di ujung meja.
"Ayah..! Ayah.." Stephany berteriak tapi tak ada jawaban. Ia mencoba membangunkan Ibunya, tapi sia-sia.
Baru pernah adzan terdengar begitu lembut di telinga Rahma. Air matanya terus bercucuran. Sudah berapa tahun ia menginggalkan shalat, kepalanya menjadi begitu berat.
Ia bangkit perlahan mencoba menggapai tongkat yang sudah lama tidak terpakai tapi masih tergantung di dinding. Sebelum tangannya sampai ke dinding, ia tak melihat tongkat itu lagi.
Stephany terhenyak mendengar suara piring berjatuhan di ruang tengah. Ia meninggalkan layar chatting dengan kawannya di Jepang, tanpa bye bye.
Ketika pintu kamar dibuka, Stephany menyadari ada masalah besar. Ibunya terkapar di bawah meja. Piring-piring berjatuhan dan ada beberapa percik darah di ujung meja.
"Ayah..! Ayah.." Stephany berteriak tapi tak ada jawaban. Ia mencoba membangunkan Ibunya, tapi sia-sia.
Air mata Stephany mendadak bercucuran, jantungnya
berdetak keras. Ia mencoba mengangkat Ibu tapi tak kuat.
"Barry...!" Sekuat tenaga Stephany memanggil adiknya. Tapi tak ada jawaban pula.
Stephany mulai berkunang-kunang tapi ia masih sanggup berjalan menuju kamar Ayah untuk memastikan keberadaannya. Kosong. Ia berlari ke kamar Barry. Terkunci.
"Satpam.." Ia tak bisa menyebut namanya. Baru tiga hari Ayah mengganti penjaga pintu dan Stephany merasa begitu bodoh mengapa tidak pernah bertanya namanya.
Seorang berseragam hitam-hitam melongokan kepala dari balik pintu depan yang sengaja malam ini tidak dikunci Rahma.
"Ya Bu.." Suara satpam sedikit mengantuk. Ketika menyadari dua orang terkapar di bawah meja, ia mendadak menjerit.
"Tolong tolong!"
"Barry...!" Sekuat tenaga Stephany memanggil adiknya. Tapi tak ada jawaban pula.
Stephany mulai berkunang-kunang tapi ia masih sanggup berjalan menuju kamar Ayah untuk memastikan keberadaannya. Kosong. Ia berlari ke kamar Barry. Terkunci.
"Satpam.." Ia tak bisa menyebut namanya. Baru tiga hari Ayah mengganti penjaga pintu dan Stephany merasa begitu bodoh mengapa tidak pernah bertanya namanya.
Seorang berseragam hitam-hitam melongokan kepala dari balik pintu depan yang sengaja malam ini tidak dikunci Rahma.
"Ya Bu.." Suara satpam sedikit mengantuk. Ketika menyadari dua orang terkapar di bawah meja, ia mendadak menjerit.
"Tolong tolong!"
***
Mata Rahma melihat wajah-wajah penuh harap di depan matanya.
“Apa kabar? Hai Stephany, Barry..”
Wajah-wajah itu berusaha tersenyum.
“Mengapa kamu tak memeluk Ibu?” Stephany dan Barry berebut
memeluknya.
Rahma mencoba tak ingin terlihat sedih. Mata Stephany dan
Barry sayu lama terendam air mata. Rahma menengok jam yang dipakai Stephany.
“Ibu sudah segar, biar tidur hanya tiga jam, “ kata Rahma
dengan tawa kecil. “Ibu lelah jadi tadi tertidur. Terima kasih Any, Barry, kamu
membawa Ibu ke Rumah Sakit. Ibu memang sudah berencana periksa dokter.”
Alroji Stephany menunjukan jam tujuh pagi. Stephany
tersenyum sambil menatap Barry. Mata Stephany melirik suster dan sedikit
mengerdipkan mata. Suster itu mengangguk, ia bisa memahami kode Stephany. Dia
diam di ujung kamar dengan senyuman yang terjaga.
“Ayah tadi malam lembur. Nanti sore juga pulang, “ kata Rahma.
Stephany mengelus pipi Rahma dan minta ijin ke luar kamar.
Barry mengikutinya.
“Bagaimana kita akan memberi tahu bahwa Ibu tertidur tiga
hari?” tanya Stephany pelan.
Barry terdiam.
Lama Stephany menunggu. “Ayo cari solusi, “ Stephany mulai
geram.
“Bagaimana dengan kecelakaan Ayah?” kata Barry.
“Kau terlalu cepat menyimpulkan. Semuanya masih misterius.
Polisi hanya menemukan mobil tapi tak menemukan Ayah.”
Barry menengok wajah Ibunya dari balik jendela. “Apa yang
membuatmu yakin Ayah masih hidup?” tanya Barry.
“Aku belum melihat jenazahnya.”
Terdengar sirine datang dari luar rumah sakit. Beberapa
waktu kemudian polisi menghampiri Stephany.
“Anda diminta datang ke kantor polisi,” kata salah satu
polisi.
Stephany hendak pemit ke Ibu, tapi polisi itu menyeretnya ke
luar rumah sakit. (bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar