Kepergian Hartoyo (1)
Pagi jam enam, waktu yang selalu menegangkan. Setiap hari.
Tak cukup Hartoyo melihat cermin lima kali. Sepuluh kali
setidaknya dia menatap wajahnya di kaca dengan pertanyaan yang sama setiap
kali: apakah ada yang terlewat?
Sesaat matanya bertatapan dengan mata sendiri di cermin.
Keriput matanya sudah terlihat. Ini adalah tahun ke 20, dia menyelidiki
matanya, hidung, alis dan bulu jambang tipis. Ada satu dua, mungkin lebih, helai rambut
yang memutih. Di beberapa tempat rambut menipis. “Aku sudah tua.”
Duapuluh tahun bertatapan di cermin setiap pagi, sehabis
mandi di sela makan pagi, ritual Hartoyo sudah begitu otomatis. Membuka pintu
kamar tanpa bunyi, meninggalkan istri di kursi makan dan anak-anak yang sibuk
sendiri. “Aku sudah tua.”
Matanya bertatapan lagi dengan mata Hartoyo di cermin.
Setelah menatap rambut, kening, leher, dasi, kemeja, jas, emblem nama, sabuk
berlogo, celana hitam, sepatu hitam bertali dan terakhir menatap jam
tangan.”Aku sudah siap.”
Melewati ruang meja makan, anak-anak sudah tidak tampak.
Istrinya, Rahma, sudah seperti biasa berdiri di pintu. Tangan Rahma mengambil
tangan Hartoyo untuk tahun yang ke 23, menciumnya. Hartoyo membalas mencium
tangan istrinya dan pergi.
Tapi hari ini, Hartoyo membalikan badan ketika langkah kelima.
Ini adalah lima
hari berturut-turut, Hartoyo menoleh ke belakang, menatap wajah Rahma yang
terdiam. “Rahma..” kata-katanya tak dilanjutkan.
Rahma menatapnya tanpa tanya. “Aku tahu…,” kata Rahma pelan hampir tak terdengar. Hartoyo
pergi meninggalkan halaman rumah dengan menunduk. Hari kelima dia meninggalkan
rumah dengan beberapa pertanyaan menggantung di kepalanya. Bunga mawar, kamboja
Jepang, dan soka merah tak disapanya. Satu dua pohon di pot mulai kering.
“Barjo! Siram!”
Barjo tersengat dengan perintah Hartoyo. Ini adalah hari
pertama dia diperintah menyiram pohon kesayangan Bos; bonsai beringin dan
bonsai asem Jawa. Barjo berlari mengambil ember, terbirit-birit ke kamar mandi
dan menyiram dengan ketakutan dua bonsai yang sekarat. “Hiduplah. Kau mati, aku
mati.”
Pagi itu pohon-pohon bertanya-tanya; Hartoyo, ada apa? Barjo memandang majikannya menghampiri
kendaraan BMW terbaru. Mirin, supir yang mulai membungkuk setelah 20 tahun
melayani Hartoyo, terburu-buru masuk. Satu ajudan, menghormat dan menyilakan
Hartoyo masuk.
Hartoyo memegang pintu kendaraan terbaru yang tak pernah ia
membelinya. Tangan Hartoyo mengelus pintu dan tersenyum. Dia sadar mobil hadiah
itu telah mengantarkannya kepada ujung kariernya.
Perjalanan ke kantornya terasa lebih dekat dari biasanya.
Kelokan demi kelokan yang sudah dihapalnya sudah mulai habis. Pemandangan di
langit mendung terjadi tiba-tiba. Kilat menyambar. “Apa ini perubahan iklim?”
supir berbicara sendiri di belakang kemudi.
“Mirin, belok ke kanan?” Hartoyo berteriak tiba-tiba
menggetarkan seluruh kabin.
“Masuk tol?” tanya Mirin.
“Cepat!”
Asap mengepul di beberapa pojok kota . Perahu-perahu melintas meyisir
jalan-jalan yang telah berubah menjadi sungai. Semua orang sudah terbiasa
dengan banjir setiap hari. Sore banjir, pagi kering. Pagi banjir sore kering.
Hartoyo bersandar menatap Jakarta yang menuju kematian, membuat hatinya
gelisah sebentar, tapi mendadak tenang,
dan kemudian gelisah kembali. Anak-anak seperti tidak pernah marah, tetap
tersenyum mendorong perahu demi mendapatkan recehan. Orang-orang berdasi duduk
rapi di atas perahu dengan tenang.
Satu dua pasangan muda-mudi tampak tertawa cekikikan
sepanjang jalur air. Satu-dua perahu menggunakan mesin membawa wanita hamil
terburu-buru ke rumah sakit. Sampai kapan begini? Horizon di ujung utara semakin biru. Ceria
sekali hari ini, tapi air menggenang ke mana-mana hanya karena guyuran hujan
semalam.
Sebuah perjalanan berat buat Hartoyo menuju ketidakpastian.
Hartoyo bergeser kiri kanan, ada apa dengan pantatnya? Di kabin ber AC yang
begitu dingin, pahanya terasa begitu panas.
***
Rahma menatapi langit Jakarta
yang gelap. Lampu kamarnya dimatikan agar bisa melihat langit malam tanpa
gangguan. Pohon alpukat di samping kamar tampak pendek, setelah dipotong
beberapa hari lalu. Langit tidak berbintang malam ini. Bulan separo tampak
berbayang dibalik awan gelap. Kelelawar terbang di atas pohon
alpukat.
Tatapan Hartoyo Burhanuddin, suaminya yang sudah 30 tahun
bersama, tampak tajam di sebuah foto di dinding kamar. Rahma menatapnya sambil
duduk di kursi goyang. Tidak ada tetes air mata. Degup jantung pun tetap
tenang. “Malam ini…” katanya dalam hati tak sanggup melanjutkan. “Aku bisa
melihat dari matamu beberapa hari ini. Tadi pagi… “
Tangan Rahma memegangi telepon genggam. Telinganya mencoba
tetap berkonsentrasi menangkap kemungkinan dering telepon berbunyi. Gagang
telepon di kamar, di sudut dekat lampu tidur, dari tadi mati. “Semua berubah
hari ini..” katanya dalam hati.
Perubahan yang sudah diduganya sejak beberapa hari ini.
Rahma menghembuskan nafas panjang. “Mengapa aku tak bertanya kepadamu, Mas Har?”
Sebuah kebiasaan yang bertahan selama 30 tahun,
membuat Rahma tidak ingin bertanya. Hartoyo, kekasih yang ditemui di lapangan
bola, adalah penyimpan rahasia. Hanya sedikit masalah kantor yang diceritakan
kepada istrinya. Sekretaris Hartoyo terbarunya, Dini, gadis 23 tahun, kadang
menelepon ke rumah, tapi malam ini tidak.
Dia, satu-satunya, sekretaris yang paling banyak diceritakan
Hartoyo: langsing, cerewet, berkacamata dan kutu buku. Hampir semua
sifatnya mirip dengan sifat Rahma ketika
muda. “Apakah dia juga gemar membaca buku cara berkebun?” ada rasa cemburu di
hati Rahma.
Malam ini seperti sudah terencana dengan rapi menuju sebuah
takdir; malam kesepian. Anak-anak tidur lebih sore dari biasanya. Jam dinding
menunjukan 23.00. Rahma tetap menunggu dering telepon, meski dia yakin suaminya tak akan menelepon. “Kami saling mengerti, tanpa kata, hanya tatapan.”
Gerimis satu per satu turun. Angin mengibas daun pisang di
ujung lahan. Tiga batang pisang Kapok yang tidak akan dibuang meski menganggu
pemandangan. Sebuah kesalahan konsep
taman yang dimaafkan oleh Rahma. Pohon pisang di pojok padang
rumput adalah pengalihan obyek yang menyesatkan. Rahma sudah mengatur lahan
taman itu, agar pohon alpukat menjadi pusat pendangan.
Tapi Hartoyo tak ingin membuang pohon pisang di pojok taman.
“Please, hanya sekadar pisang mengapa
tak boleh hidup? Taman ini tetap indah dengan
pohon pisang ini,” Hartoyo mengatakan waktu itu. Rahma ingin menutup batang
pisang itu dengan kain agar makin cantik. “Ah itu mengada-ada. Kita hidup di Jakarta bukan Bali ?” Hartoyo memprotes.
Hujan mulai deras, percikan air menerobos jendela yang
terbuka dan membasai korden. Tengah malam sudah lewat. Air mata Rahma menetes.
Pukul 01.00 lewat. Inilah jam paling lambat Hartoyo pulang. Sejak lima tahun terakhir, Rahma
tak lagi menjemput langsung di depan pintu
seperti tahun-tahun sebelumnya. “Kau tak usah keluar malam begini. Nanti kau sakit. Udara
sangat dingin, Say, “ kata Hartoyo malam
itu.
Malam ini, Rahma menengok ke luar jendela. Kilat menyambar.
Satu lampu taman di bawah pohon pisang mati dan menimbulkan ledakan kecil.
Seluruh lampu taman mati. (bersambung)
****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar