Senin, 15 Oktober 2012

Novel: Jakarta 2026





Kepergian Hartoyo (1)

Pagi jam enam, waktu yang selalu menegangkan. Setiap hari. Tak cukup  Hartoyo melihat cermin lima kali. Sepuluh kali setidaknya dia menatap wajahnya di kaca dengan pertanyaan yang sama setiap kali: apakah ada yang terlewat?

Sesaat matanya bertatapan dengan mata sendiri di cermin. Keriput matanya sudah terlihat. Ini adalah tahun ke 20, dia menyelidiki matanya, hidung,  alis dan  bulu jambang tipis. Ada satu dua, mungkin lebih, helai rambut yang memutih. Di beberapa tempat rambut menipis. “Aku sudah tua.”

Duapuluh tahun bertatapan di cermin setiap pagi, sehabis mandi di sela makan pagi, ritual Hartoyo sudah begitu otomatis. Membuka pintu kamar tanpa bunyi, meninggalkan istri di kursi makan dan anak-anak yang sibuk sendiri. “Aku sudah tua.”

Matanya bertatapan lagi dengan mata Hartoyo di cermin. Setelah menatap rambut, kening, leher, dasi, kemeja, jas, emblem nama, sabuk berlogo, celana hitam, sepatu hitam bertali dan terakhir menatap jam tangan.”Aku sudah siap.”

Melewati ruang meja makan, anak-anak sudah tidak tampak. Istrinya, Rahma, sudah seperti biasa berdiri di pintu. Tangan Rahma mengambil tangan Hartoyo untuk tahun yang ke 23, menciumnya. Hartoyo membalas mencium tangan istrinya dan pergi.

Tapi hari ini, Hartoyo membalikan badan ketika langkah kelima. Ini adalah lima hari berturut-turut, Hartoyo menoleh ke belakang, menatap wajah Rahma yang terdiam. “Rahma..” kata-katanya tak dilanjutkan.

Rahma menatapnya tanpa tanya. “Aku tahu…,”  kata Rahma pelan hampir tak terdengar. Hartoyo pergi meninggalkan halaman rumah dengan menunduk. Hari kelima dia meninggalkan rumah dengan beberapa pertanyaan menggantung di kepalanya. Bunga mawar, kamboja Jepang, dan soka merah tak disapanya. Satu dua pohon di pot mulai kering. “Barjo! Siram!”

Barjo tersengat dengan perintah Hartoyo. Ini adalah hari pertama dia diperintah menyiram pohon kesayangan Bos; bonsai beringin dan bonsai asem Jawa. Barjo berlari mengambil ember, terbirit-birit ke kamar mandi dan menyiram dengan ketakutan dua bonsai yang sekarat. “Hiduplah. Kau mati, aku mati.”

Pagi itu pohon-pohon bertanya-tanya; Hartoyo, ada apa?  Barjo memandang majikannya menghampiri kendaraan BMW terbaru. Mirin, supir yang mulai membungkuk setelah 20 tahun melayani Hartoyo, terburu-buru masuk. Satu ajudan, menghormat dan menyilakan Hartoyo masuk.

Hartoyo memegang pintu kendaraan terbaru yang tak pernah ia membelinya. Tangan Hartoyo mengelus pintu dan tersenyum. Dia sadar mobil hadiah itu telah mengantarkannya kepada ujung kariernya.       
Perjalanan ke kantornya terasa lebih dekat dari biasanya. Kelokan demi kelokan yang sudah dihapalnya sudah mulai habis. Pemandangan di langit mendung terjadi tiba-tiba. Kilat menyambar. “Apa ini perubahan iklim?” supir berbicara sendiri di belakang kemudi.

“Mirin, belok ke kanan?” Hartoyo berteriak tiba-tiba menggetarkan seluruh kabin.
“Masuk tol?” tanya Mirin.
“Cepat!”

Sedan biru itu membelok cepat dan melaju kencang di jalan tol Jakarta yang tidak mulus. Situasi kota makin kacau. Hartoyo menatap bagian utara Jakarta yang tergenang. Luas sekali sehingga gedung-gedung tampak seperti tonggak-tonggak kayu di rawa-rawa kotor.

Asap mengepul di beberapa pojok kota. Perahu-perahu melintas meyisir jalan-jalan yang telah berubah menjadi sungai. Semua orang sudah terbiasa dengan banjir setiap hari. Sore banjir, pagi kering. Pagi banjir sore kering.

Hartoyo bersandar menatap Jakarta yang menuju kematian, membuat hatinya gelisah sebentar,  tapi mendadak tenang, dan kemudian gelisah kembali. Anak-anak seperti tidak pernah marah, tetap tersenyum mendorong perahu demi mendapatkan recehan. Orang-orang berdasi duduk rapi di atas perahu dengan tenang.

Satu dua pasangan muda-mudi tampak tertawa cekikikan sepanjang jalur air. Satu-dua perahu menggunakan mesin membawa wanita hamil terburu-buru ke rumah sakit. Sampai kapan begini?  Horizon di ujung utara semakin biru. Ceria sekali hari ini, tapi air menggenang ke mana-mana hanya karena guyuran hujan semalam. 

Sedan biru melucur cepat di jalur tol. Sudah dua kali Hartoyo memutari tol lingkar paling luar Jakarta. Jakarta masih mendung. Awan gelap menyelimuti kota. Seperti mau runtuh. Kota yang mulai rapuh sepertinya tak akan mampu menahan guyuran hujan kali ini. Tak ada kilat dan guntur. Tapi hari ini menakutkan.

Sebuah perjalanan berat buat Hartoyo menuju ketidakpastian. Hartoyo bergeser kiri kanan, ada apa dengan pantatnya? Di kabin ber AC yang begitu dingin, pahanya terasa begitu panas.


                                                            ***
Rahma menatapi langit Jakarta yang gelap. Lampu kamarnya dimatikan agar bisa melihat langit malam tanpa gangguan. Pohon alpukat di samping kamar tampak pendek, setelah dipotong beberapa hari lalu. Langit tidak berbintang malam ini. Bulan separo tampak berbayang dibalik awan gelap. Kelelawar terbang di atas pohon alpukat.

Tatapan Hartoyo Burhanuddin, suaminya yang sudah 30 tahun bersama, tampak tajam di sebuah foto di dinding kamar. Rahma menatapnya sambil duduk di kursi goyang. Tidak ada tetes air mata. Degup jantung pun tetap tenang. “Malam ini…” katanya dalam hati tak sanggup melanjutkan. “Aku bisa melihat dari matamu beberapa hari ini. Tadi pagi… “

Tangan Rahma memegangi telepon genggam. Telinganya mencoba tetap berkonsentrasi menangkap kemungkinan dering telepon berbunyi. Gagang telepon di kamar, di sudut dekat lampu tidur, dari tadi mati. “Semua berubah hari ini..” katanya dalam hati.

Perubahan yang sudah diduganya sejak beberapa hari ini. Rahma menghembuskan nafas panjang. “Mengapa aku tak bertanya kepadamu, Mas Har?”

Sebuah kebiasaan yang bertahan selama 30 tahun, membuat Rahma tidak ingin bertanya. Hartoyo, kekasih yang ditemui di lapangan bola, adalah penyimpan rahasia. Hanya sedikit masalah kantor yang diceritakan kepada istrinya. Sekretaris Hartoyo terbarunya, Dini, gadis 23 tahun, kadang menelepon ke rumah, tapi malam ini tidak.

Dia, satu-satunya, sekretaris yang paling banyak diceritakan Hartoyo: langsing, cerewet, berkacamata dan kutu buku. Hampir semua sifatnya  mirip dengan sifat Rahma ketika muda. “Apakah dia juga gemar membaca buku cara berkebun?” ada rasa cemburu di hati Rahma. 

Malam ini seperti sudah terencana dengan rapi menuju sebuah takdir; malam kesepian. Anak-anak tidur lebih sore dari biasanya. Jam dinding menunjukan 23.00. Rahma tetap menunggu dering telepon, meski dia yakin suaminya tak akan menelepon. “Kami saling mengerti, tanpa kata, hanya tatapan.”

Gerimis satu per satu turun. Angin mengibas daun pisang di ujung lahan. Tiga batang pisang Kapok yang tidak akan dibuang meski menganggu pemandangan.  Sebuah kesalahan konsep taman yang dimaafkan oleh Rahma. Pohon pisang di pojok  padang rumput adalah pengalihan obyek yang menyesatkan. Rahma sudah mengatur lahan taman itu, agar pohon alpukat menjadi pusat pendangan.

Tapi Hartoyo tak ingin membuang pohon pisang di pojok taman. “Please, hanya sekadar pisang mengapa tak boleh hidup? Taman ini tetap indah dengan pohon pisang ini,” Hartoyo mengatakan waktu itu. Rahma ingin menutup batang pisang itu dengan kain agar makin cantik. “Ah itu mengada-ada. Kita hidup di Jakarta bukan Bali?”  Hartoyo memprotes.

Hujan mulai deras, percikan air menerobos jendela yang terbuka dan membasai korden. Tengah malam sudah lewat. Air mata Rahma menetes. Pukul 01.00 lewat. Inilah jam paling lambat Hartoyo pulang. Sejak lima tahun terakhir, Rahma tak lagi menjemput langsung di depan pintu  seperti tahun-tahun sebelumnya. “Kau tak usah  keluar malam begini. Nanti kau sakit. Udara sangat dingin, Say,  “ kata Hartoyo malam itu.

Malam ini, Rahma menengok ke luar jendela. Kilat menyambar. Satu lampu taman di bawah pohon pisang mati dan menimbulkan ledakan kecil. Seluruh lampu taman mati. (bersambung)

                                    ****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar